Rabu, 06 Februari 2013

peranan PAK terhadap pengajaran sekolah minggu

I.                  Pendahuluan
1.1.                     Latar belakang masalah
PAK (Pendidikan Agama Kristen) merupakan pendidikan yang berporos pada pribadi Tuhan Yesus Kristus dan Alkitab (Firman Allah) sebagai dasar atau sumber acuannya.[1] Menurut Marthin Luther, PAK adalah pendidikan yang melibatkan warga jemaat untuk belajar teratur dan tertib agar semakin menyadari dosa mereka serta sukacita di dalam Firman Yesus Krisrus yang memerdekakan. Disamping itu, PAK memperlengkapi mereka dengan pengalaman berdoa, Firman Tertulis (Alkitab) dan rupa-rupa kebudayaan sehingga mereka mampu melayani sesamanya termasuk masyarakat dan Negara serta mengambil bagian dengan bertanggung jawab dalam persekutuan Kristen.[2]  Paulus Lilik Kristianto mengatakan bahwa yang menjadi tugas PAK adalah mengajar sesuai dengan perintah-perintah Tuhan Yesus Kristus kepada murid-Nya sebelum kenaikan-Nya kesurga, yaitu “pergilah”, “jadikanlah” “semua bangsa murid-Ku”, “babtislah” dan “ajarlah”.
Dengan kata lain ada tiga hal yang harus dilakukan para murid Kristus, yaitu memberitakan Injil, membabtis dan mengajar. PAK berhubungan dengan mengajar, sasarannya menginjil, membabtis, dan mengajar adalah adanya suatu proses pemuridan yang menjadikan mereka sebagai murid Kristus yang dilihat dari tujuan PAK itu sendiri yakni mendewasakan para murid Kristus. “Dan Ialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar,untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus,sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus,” (Ef. 4:11-13). Ayat tersebut menunjukkan bahwa tujuan mengajar adalah menjadikan murid dewasa dan bertumbuh sesuai dengan kepenuhan Kristus. Tujuan ini harus dicapai selama murid-murid Kristus masih hidup di dunia ini.[3]
Secara khusus, penulis lebih menekankan PAK di gereja yang ditujukan kepada sistem pengajaran guru sekolah minggu.  Anak adalah masa yang paling baik untuk mempersiapkan suatu generasi pengganti baik dalam keluarga, Negara (pemerintahan) maupun dalam kehidupan gereja. Dalam hal ini tidak heran bila pengorbanan kepada anak baik dalam pikiran, tenaga, dan uang dilakukan untuk perkembangan pendidikan anak sebagai generasi yang berkualitas. Pendidikan yang bagaimanakah dilakukan oleh gereja? Gereja melalui sekolah minggu berusaha untuk membina anak-anak untuk bertumbuh dalam kehidupan Kristen. Gereja harus menyediakan lingkungan yang baik bagi anak sekolah minggu dan Alkitab harus menjadi bahan utama dalam mengajar anak sekolah minggu.[4]  Tuhan Yesus tidak pernah menganggap rendah anak-anak dan bahkan mengatakan bahwa orang yang empunya kerajaan  Allah adalah jika mereka memiliki gambaran hati seorang anak (Mat. 19:14, Mark. 10:14, Luk. 18:16). Homrighausen dan Enklaar mengatakan:
“bahwa anak-anak yang masih muda perlu dididik sampai mereka menjadi orang Kristen yang dewasa. Kita yakin bahwa Tuhan oleh anugerah-Nya mau menghisabkan mereka pada jemaat Kristus yang agung dan besar itu. Tuhan telah menerima mereka sebagai anak-anak-Nya sendiri dan sebagai ahli waris kerajaan Sorga”.[5]

Melalui pendapat di atas penulis dapat melihat bahwa gereja harus melakukan yang terbaik kepada anak-anak jemaat sekolah minggu. Disamping itu gereja juga harus memperhatikan tenaga pengajar sekolah minggu, sebab selain memiliki kewajiban untuk mengajar seorang guru sekolah minggu juga harus memperhatikan pribadinya yang juga dapat menentukan keberhasilan dalam kedewasaan iman anak-anak sekolah minggu.
Perlu diperhatikan siapa sebenarnya pengajar/guru sekolah minggu di hadapan anak-anak. Apakah mereka menganggap orang besar yang selalu menyuruh anak duduk diam dan mendengarkan? Apakah anak-anak merasa bahwa guru sekolah minggu sebagai pengajar yang selalu tidak ,memperbolehkan mereka berbuat hal-hal yang menarik? Apakah anak-anak menganggap guru sekolah minggu sebagai sahabat yang baik yang mencintai dan mengasihi mereka?. Dalam hal ini guru sekolah minggu harus penuh dengan kasih, sebab sangat erat hubungannya dengan usaha membangun citra diri yang baik. Guru sekolah minggu perlu memiliki citra diri yang baik dalam arti bahwa mereka dipandang oleh anak-anak sekolah minggu sebagai orang yang pantas untuk dihargai dan diterima sebagai guru yang menyayangi mereka. Andar ismail mengatakan :
“penghargaaan terhadap diri sendiri dapat diperoleh dari penghargaan yang ia terima dari orang yang sungguh-sungguh mencintai dirinya. Dalam suasana seperti ini, harapan seorang guru dapat membuka diri kepada anak-anak sekolah minggu dengan penuh kepercayaan dan kasih sayang secara Kristiani ”.[6]

Pendidik bagi sekolah minggu disebut guru sekolah minggu. Guru sekolah minggu di panggil Allah untuk mendidik anak secara religius. Guru adalah salah satu komponen manusiawi dalam proses belajar mengajar, yang ikut berperan dalam usaha pembentukan sumber daya manusia yang potensial di bidang pembangunan.[7] Pendidik bagi guru sekolah minggu disebut guru sekolah minggu. Guru dalam kamus besar bahasa Indonesia disebut sebagai orang yang kerjanya mengajar.[8] Seorang guru sekolah minggu lebih sering disebut sebagai pengajar atau pendidik daripada seorang pengkotbah. Seorang guru sekolah minggu bertujuan untuk membantu anak-anak menjadi dewasa dalam iman sedangkan pengkotbah bertujuan mengajarkan petunjuk Tuhan kepada umat-Nya. Dalam kitab injil Tuhan Yesus memberi khotbah kepada massa yang belum menjadi murid-Nya, dan mengajar murid-murid-Nya (Mat.13:3,36;Kis.2:42).[9] Guru sekolah minggu adalah seorang pelayan, yang menyalurkan air hidup bagi anak-anak. Panggilan sebagai pelayan itu merupakan karunia dari Allah dan mengajar adalah tugas yang paling mulia. Seorang guru sekolah minggu membawa anak-anak dari yang tidak tahu mejadi tahu, dari yang tidak mengerti menjadi mengerti, dari tidak bisa melakukan menjadi bisa melakukan. Dari ketiga tugas diatas, dapat kita katakan bahwa seorang guru sekolah minggu perlu memiliki sumber daya yang baik , misalnya mempunyai pengetahuan tentang anak, pemahaman tentang firman Tuhan dan karakter yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Dengan demikian guru sekolah minggu mampu meletakkan dasar iman dalam kehidupan anak-anak. Tetapi yang menjadi pokok permasalahan banyak guru sekolah minggu di suatu gereja ialah anak SMA yang belum mengerti akan pengetahuan tentang anak dari segi psikologinya, Maka dari itu dibutuhkan peranan PAK terhadap sistem pengajaran Guru Sekolah Minggu serta pucuk pemimpin gereja haruslah memperhatikan usaha yang dilakukan bagi guru sekolah minggu sebagai pendidik religius yakni :
  1. Mempersiapkan dan menyediakan tenaga guru sekolah minggu yang terampil untuk memimpin kebaktian dan membina anak-anak sekolah minggu
  2. Melaksanakan usaha-usaha peningkatan pendidikan/keterampilan guru sekolah minggu
  3. Mengadakan sarana pendukung untuk kelancaran pelaksanaan kegiatan sekolah minggu[10]
Penulis sangat setuju dengan pendapat diatas, sebab jika guru sekolah minggu telah diperlengkapi dan dibina maka akan meningkatkan kualitas pelayanan yang berdampak meningkatkan iman spiritual anak sekolah minggu.
Sehubungan dengan pentingnya perhatian serius kepada anak-anak Sekolah Minggu, maka Sekolah Minggu merupakan wadah yang tepat dalam membina anak-anak, sehingga anak-anak tumbuh dibawah naungan gereja disamping tanggung jawab orang tua, karena telah menjadi tanggung jawab gereja mengarahkan pertumbuhan, perkembangan dan pendidikan kerohanian mereka. Sikap gereja yang yang memberikan pendidikan yang benar sejak dini akan banyak mempengaruhi kehidupan anak-anak dalam segala segi, sebab pendidikan yang telah diberikan itu dapat membentuk watak, kepribadian, tingkah laku dan juga kerohaniannya kearah yang benar hingga pada masa mudanya kelak. Para pendidik anak Sekolah Minggu dewasa ini perlu menyadari, bahwa pengetahuan dan pengalaman manusia adalah dasar untuk mengasuh anak Sekolah Minggu. Melihat profesi guru sebagai pendidik, seorang guru Sekolah Minggu harus mengerti faktor-faktor yang berlaku dalam hubungan antar pribadi, antar anak-anak dan pendidik. Guru Sekolah Minggu selaku pemberi didikan kepada anak Sekolah Minggu betul-betul mengajarkan firman Tuhan, sehingga iman anak Sekolah Minggu itu dapat bertumbuh dengan baik. Tuhan Yesus berkata: “pergilah, jadikanlah semua bangsa menjadi murid-Ku dan babtislah mereka didalam nama bapa dan Anak, Roh Kudus dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang kuperintahkan kepadamu, dan ketahuilah aku menyertaimu sampai akhir zaman” (Mat 28:19-20, Ul 6:6-7). Dari nats diatas kita ketahui bahwa, mengajar adalah salah satu tugas guru Sekolah Minggu. Guru Sekolah Minggu bertugas untuk mengajarkan firman Tuhan kepada anak-anak Sekolah Minggu. Disamping pengajaran tentang Tuhan Yesus yang disampaikan oleh guru-guru Sekolah Minggu, menjadikan anak-anak Sekolah Minggu menjadi murid Yesus.
Untuk itulah, penulis ingin mengetahui bagaimana peran PAK dan pengaruhnya dalam sistem pengajaran guru sekolah minggu di gereja. Untuk mendapat jawaban dari setiap masalah yang diajukan, maka penulis terdorong untuk melaksanakan penelitian dengan mengangkat judul “peranan PAK terhadap sistem pengajaran guru sekolah minggu di HKI Resort Sebanga-Duri”



1.2.                     Identifikasi masalah
Berdasarkan uraian dari latar belakang masalah diatas, maka penulis membuat identifikasi masalah sebagai berikut:
1.      Kurangnya peran PAK di gereja dalam mengarahkan sistem pengajaran guru sekolah minggu
2.      Tidak adanya rencana pelaksanaan pembelajaran oleh guru sekolah minggu dalam mengevaluasi dalam pengajaran yang diberikannya
1.3.                     Pembatasan masalah
Berdasarkan identifikasi masalah yang telah diungkapkan diatas, maka yang menjadi batasan masalah dalam penelitian ini adalah pentingnya peranan PAK dalam merancang sistem pengajaran guru Sekolah Minggu untuk mengevaluasi pendidikan yang didapat oleh anak Sekolah Minggu.
1.4.                     Perumusan masalah
Berdasarkan uraian dari identifikasi masalah diatas, maka penulis membuat perumusan masalah sebagai berikut :
1.      Bagaimanakah sistem pengajaran guru Sekolah Minggu gereja tersebut dalam meningkatkan iman anak Sekolah minggu
2.      Apakah yang menjadi dampak peranan PAK dan pengaruhnya terhadap sistem pengajaran guru Sekolah Minggu dalam gereja
3.      Mengapa dalam gereja kurang diperhatikannya akan suatu pelatihan terhadap guru sekolah minggu akan pengajaran yang diberikannya
1.5.                     Tujuan penulisan
Tujuan penulisan ini adalah :
1.      Untuk dapat mengevaluasi akan peranan PAK dan pengaruhnya terhadap sistem pengajaran guru Sekolah Minggu
2.      Untuk memberikan pemahaman yang benar kepada para pemimpin gereja bahwa Gereja tidak dapat terlepas daripada pengajaran PAK
1.6.                     Manfaat penulisan
1.      Melalui penulisan ini, manfaatnya adalah agar penulis semakin menyadari bahwa dibutuhkannya suatu peranan PAK dalam pengajaran di sekolah minggu
2.      Agar gereja semakin sadar akan sistem pengajaran yang diberikan guru sekolah minggu terhadap anak Sekolah Minggu
1.7.                     Metode penelitian
Metode yang digunakan oleh penulis dalam penelitian skripsi ini adalah sebagai berikut :
1.      Penelitian kepustakaan (Library Research) yaitu pengumpulan data teoritis melalui buku-buku bacaan yang erat hubungannya dengan judul skripsi
2.      Penelitian lapangan (Field Research) dengan observasi, wawancara, dan menggunakan angket. Dalam hal ini, penulis langsung terjun ke lapangan untuk meneliti dan mengumpulkan serta menganalisa data-data yang dibutuhkan sesuai dengan judul skripsi.
1.8.                     Penjelasan istilah
1.9.                     Hipotesa
Dalam penelitian ini penulis akan menggunakan hipotesa Asosiatif karena adanya suatu pernyataan yang menunjukkan dengan tentang hubungan antara dua variabel atau lebih.
1.10.                Sistematika penulisan
Untuk memperinci seluruh hasil tulisan kegiatan penelitian dan data atau informasi yang telah diperoleh dalam proposal ini, penulis menguraikan atas beberapa BAB, SUB BAB dan topic-topik uraian, sehingga terjadi uraian yang sistematis yang terdapat dalam tulisan ini. Adapun sistematika penulis penelitian ini, adalah :
BAB I : PENDAHULUAN
               Bab ini berisikan latar belakang masalah, identifikasi masalah, pembatasan masalah, perumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, metode penelitian dan sistematika penulisan.
BAB II : KERANGKA TEORITIS, KERANGKA KONSEPTUAL, Dan PENGAJUAN HIPOTESA
Kerangka teoritis berisikan : Pengertian PAK secara umum, tujuan PAK,dasar teologis PAK,pengeritan Guru Sekolah Minggu, metode pengajaran Guru sekolah Minggu yang efektif, pandangan PAK terhadap sistem pengajaran guru Sekolah Minggu di gereja. Kerangka konseptual dan pengajuan hipotesa.
BAB III : METODEOLOGI PENELITIAN
Bab ini menerangkan metode penelitian yang terdiri dari : lokasi penelitian, letak geografis, sejarah singkat berdirinya Gereja HKI Res. Sebanga-Duri, gambaran umum anak Sekolah Minggu yang mengikuti kebaktian anak Sekolah Minggu, populasi dan sampel, alat pengumpulan data dan teknik pengolahan data.
BAB IV : PENGELOLAAN HASIL PENELITIAN, PEMBUKTIAN HIPOTESA, Dan REFLEKSI TEOLOGIS
Bab ini merupakan hasil pengumpulan data dan pengelolaan data seta pembuktian hipotesa dan refleksi teologis
BAB V : KESIMPULAN DAN SARAN
              Bab ini merupakan rangkuman dari seluruh isi pokok dari kerangka teoritis dan hasil penelitian serta saran



1.11.                Buku Yang Digunakan
Paulus lilik Kristianto,prinsip dan praktik pendidikan Agama Kristen,Yogyakarta:ANDI,2006
Robert R. Boehlke,sejarah perkembangan pemikiran praktek Pendidikan Agama Kristen;dari Plato sampai IG Loyola,Jakarta:BPK-GM,2005
Mary Go setiawan,menerobos Dunia Anak,Bandung:Yayasan Kalam Hidup,2000
Homrighausen & Enklaar,pendidikan Agama Kristen,Jakarta:BPK-GM,1985
Andar Ismail,Ajarlah Mereka Melakukan,Jakarta:BPK-GM,1998
Sadirman,Interaksi dan Motivasi belajar-mengajar,Jakarta:Raja Grafindo Persada,2000
Jame Popham, Bagaimana Mengajar Secara Sistematis, Yogyakarta: IKAPI, 1981
Daniel Nuhamara, Pembimbing Pendidikan Agama Kristen, Bandung:Jurnal Media, 2007
Iris.V. Cully, Dinamika Pendidikan Kristen,Jakarta:BPK-GM,1999
Harjanto., Perencanaan Pengajaran, Jakarta : Rineka Cipta,1997
Nana  Sudjana., Penilaian  Hasil Proses Belajar Mengajar, Bandung  :  PT. Remaja  Rosda Karya, 1989
Singgih Gunarsa., Psikologi Pendidikan Anak Dan Remaja, Jakarta : BPK - GM, 2003
Singgih. D. Gunarsa, Dasar dan Teori Perkembangan Anak, Jakarta:BPK-GM, 2008
Jhon Calvin,INSTITUTIO:Pengajaran Agama Kristen,Jakarta:BPK-GM,2009
Muhibbin syah, Psikologi Pendidikan,Bandung:PT.Remaja Rosdakarya, 2008
Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Proses Pendidikan, Jakarta: Kencana, 2009
Samuel Sidjabat, Strategi Pendidikan Kristen, Yogyakarta: ANDI, 1996
Masnur  Muslich, Dasar  Pemahaman & pengembangan, Jakarta: Bumi Aksara, 2010
Soegardo Poerbakawitja, Ensiklopedi Pendidikan, Jakarta:Gunung Agung, 1982


1.12.                Daftar pustaka
….., Peraturan seksi GKPS, Pematang Siantar:Kolprtase GKPS,2000
Andar Ismail,Ajarlah Mereka Melakukan,Jakarta:BPK-GM,2002
Boehlke,Robert R., sejarah perkembangan pemikiran praktek Pendidikan Agama Kristen;dari Plato sampai IG Loyola,Jakarta:BPK-GM,2005
Enklaar,& Homrighausen.,pendidikan Agama Kristen,Jakarta:BPK-GM,1985
Kristianto,Paulus lilik.,prinsip dan praktik pendidikan Agama Kristen,Yogyakarta:ANDI,2006
Poerwadarminta,W.J.S., Kamus Besar Bahasa Indonesia,Jakarta:Balai Pustaka,1995
Sadirman,Interaksi dan Motivasi belajar-mengajar,Jakarta:Raja Grafindo Persada,2000
setiawan,Mary Go., menerobos Dunia Anak,Bandung:Yayasan Kalam Hidup,2000
Susanto,Hasan.,HOMELETIK (prinsip dan metode berkotbah),Jakarta:BPK-GM,2004


[1] Paulus lilik Kristianto,prinsip dan praktik pendidikan Agama Kristen,Yogyakarta:ANDI,2006,hlm.1
[2] Robert R. Boehlke,sejarah perkembangan pemikiran praktek Pendidikan Agama Kristen;dari Plato sampai IG Loyola,Jakarta:BPK-GM,2005,hlm.413
[3] Paulus lilik Kristianto,Op.Cit.,hlm.6
[4] Mary Go setiawan,menerobos Dunia Anak,Bandung:Yayasan Kalam Hidup,2000,hlm.7
[5] Homrighausen & Enklaar,pendidikan Agama Kristen,Jakarta:BPK-GM,1985,hlm.137-138
[6] Andar Ismail,Ajarlah Mereka Melakukan,Jakarta:BPK-GM,2002,hlm. 142-143. Guru sekolah minggu adalah bagian dari lingkungan anak, sebab jika anak menyukai pribadi gurunya, maka apa yang dipercayai oleh guru sangat berpengaruh kepada anak khususnya sekolah minggu
[7]Sadirman,Interaksi dan Motivasi belajar-mengajar,Jakarta:Raja Grafindo Persada,2000,hlm.123
[8] W.J.S. Poerwadarminta,Kamus Besar Bahasa Indonesia,Jakarta:Balai Pustaka,1995,hlm.335
[9] Hasan Susanto,HOMELETIK (prinsip dan metode berkotbah),Jakarta:BPK-GM,2004,hlm.29
[10] ….., Peraturan seksi GKPS, Pematang Siantar:Kolprtase GKPS,2000,hlm.56

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar